Judul Peranan Pemerintah Daerah Dalam Menghadapi Konflik Pasca Pembangunan Fly Over Jombor Di Kabupaten Sleman Provinsi D.I Yogyakarta
Pengarang EDWARD SEMUEL RENMAUR
Achmed Sukendro
Djayeng Tirto
EDISI -
Penerbitan Universitas Pertahanan Republik Indonesia -
Deskripsi Fisik -
ISBN -
Subjek Pemerintah Daerah -- Konflik -- perdamaian -- Jombor
Catatan Polemik antara pemerintah dan masyarakat sejak proses hingga pasca pembangunan Fly Over Jombor menjadi salah satu konflik yang berskala nasional. Selain persoalan harga appraisal, kawasan Jombor yang strategis secara ekonomi menjadi salah satu penyebab konflik ini berlangsung lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konflik yang terjadi pasca pembangunan, peranan pemerintah daerah dalam membangun perdamaian dari aspek kebutuhan dasar manusia dan kendala yang dihadapi dalam membangun perdamaian tersebut. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data selanjutnya akan melalui tahap trianggulasi sebelum direduksi, disajikan dan ditarik kesimpulan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa konflik yang terjadi pasca pembangunan Fly Over Jombor dikategorikan sebagai konflik vertikal. Sumber konflik disebabkan karena nilai harga appraisal dan kegagalan pemerintah daerah dalam pengawasan pembangunan. Dampaknya tidak hanya menyimpan kekecewaan, melainkan melemahkan ekonomi masyarakat karena konstruksi bangunan yang tidak sesuai harapan mereka. Peranan pemerintah daerah dalam membangun perdamaian baru menyentuh kebutuhan dasar fisiologis manusia, yakni melalui program penjaminan kualitas udara dan air bagi masyarakat yang terdampak. Sedangkan keempat kebutuhan dasar lain menurut Maslow dipandang belum optimal. Kendalanya terletak pada kontradiksi kewenangan antara Pemerintah Daerah dan Pengelola Jalan Nasional (PJN), maka ini memerlukan penguatan koordinasi antara keduanya dalam menjawab harapan dan menjaga perspektif positif masyarakat sebagai komponen non militer yang diharapkan dapat menjaga stabilitas keamanan dan pertahanan negara.
Bentuk Karya Tidak ada kode yang sesuai
Target Pembaca Tidak ada kode yang sesuai

 
Informasi: Di sini Anda dapat mengakses seluruh konten digital yang tersedia untuk koleksi ini. Tombol "Baca Buku" di bawah sampul hanya menampilkan file pertama sebagai preview.
No Nama File Nama File Format Flash Format Aksi
1 ff74b8eeddd131bae5ee753655f965bc.pdf ff74b8eeddd131bae5ee753655f965bc.pdf pdf Baca
Informasi: Di sini Anda dapat melihat ketersediaan eksemplar fisik koleksi ini di perpustakaan beserta lokasinya.
No No Barcode No. Panggil Akses Lokasi Ketersediaan Aksi
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000002158
005 20251212103937
008 251212||||||||| | ||| |||| || |
020 $a -
035 0010-1225002158
041 $a id
082 0 $a NONE
090 $a -
100 0 $a EDWARD SEMUEL RENMAUR
245 0 0 $a Peranan Pemerintah Daerah Dalam Menghadapi Konflik Pasca Pembangunan Fly Over Jombor Di Kabupaten Sleman Provinsi D.I Yogyakarta
250 $a -
260 $b Universitas Pertahanan Republik Indonesia $c -
300 $a -
500 $a Polemik antara pemerintah dan masyarakat sejak proses hingga pasca pembangunan Fly Over Jombor menjadi salah satu konflik yang berskala nasional. Selain persoalan harga appraisal, kawasan Jombor yang strategis secara ekonomi menjadi salah satu penyebab konflik ini berlangsung lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konflik yang terjadi pasca pembangunan, peranan pemerintah daerah dalam membangun perdamaian dari aspek kebutuhan dasar manusia dan kendala yang dihadapi dalam membangun perdamaian tersebut. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data selanjutnya akan melalui tahap trianggulasi sebelum direduksi, disajikan dan ditarik kesimpulan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa konflik yang terjadi pasca pembangunan Fly Over Jombor dikategorikan sebagai konflik vertikal. Sumber konflik disebabkan karena nilai harga appraisal dan kegagalan pemerintah daerah dalam pengawasan pembangunan. Dampaknya tidak hanya menyimpan kekecewaan, melainkan melemahkan ekonomi masyarakat karena konstruksi bangunan yang tidak sesuai harapan mereka. Peranan pemerintah daerah dalam membangun perdamaian baru menyentuh kebutuhan dasar fisiologis manusia, yakni melalui program penjaminan kualitas udara dan air bagi masyarakat yang terdampak. Sedangkan keempat kebutuhan dasar lain menurut Maslow dipandang belum optimal. Kendalanya terletak pada kontradiksi kewenangan antara Pemerintah Daerah dan Pengelola Jalan Nasional (PJN), maka ini memerlukan penguatan koordinasi antara keduanya dalam menjawab harapan dan menjaga perspektif positif masyarakat sebagai komponen non militer yang diharapkan dapat menjaga stabilitas keamanan dan pertahanan negara.
650 0 $a Pemerintah Daerah -- Konflik -- perdamaian -- Jombor
700 0 $a Achmed Sukendro
700 0 $a Djayeng Tirto
Content Unduh katalog